Archive for 2015
Deadline
Ketika
mahasiswa mengejar deadline saat itulah semua tenaga dan pikiran dikeluarkan,
sama halnya serpeti ultraman yang telah menyalakan lampu merah yang berkedap
kedip tanda berakhirnya waktu dia beraksi dan sesegera mungkin mengeluarkan
jurus supernya untuk mengatasi musuhnya. Begitu juga mahasiswa super yang
selalu mengejar deadline di sepanjang tugasnya karena mungkin itulah trik
jitunya untuk mengatasi segala masalah tugas di perkuliahan karna rasa malas
yang menghantui, tapi jangan semena-mena melakukan trik ini karena jika
kemampuan, pikiran dan tenaga kita tidak mampu maka akan beresiko sangat fatal.
....
Mengapa
sebagian mahasiswa lebih suka mengejar deadline atau bisa disebut batas waktu akhir
dibanding mempersiapkannya atau menyelesaikan jauh jauh hari? Alasannya cukup
sederhana mungkin dengan mengejar deadline otak kita dipaksa untuk berfikir
lebih extra daripada biasanya karena waktu yang telah diberikan akan segera
habis sehingga mau tidak mau harus menyelesaikannya dengan tepat. Dan mengapa
jika menyelesaikan tugas jauh-jauh hari atau sebelum batas waktu akhir rasanya
ada hal hal yang selalu mengganjal di pikiran seolah olah pikiran kita tidak
fokus dan memkirkan hal-hal yang lain, seperti merasa tidak puas dengan hasil
yang telah dikerjakan dan merasa ada yang kurang, merasa waktu masih lama untuk
mengumpulkan tugas sehingga membuat kita merasa santai dan timbul rasa malas
dan tahu menahu sudah deadline, iniliah fenomena yang sering terjadi. Tapi
memang tidak diragukan lagi mengerjakan tugas sebelum deadline itu lebih baik
sebagai mahasiswa yang berkompeten daripada mengejar deadline, mengapa? Jika
kita telah selesai mengerjakan tugas tapi deadline masih jauh, toh kita bisa
mengecek kembali atau merevisi kembali jika masih salah, dan jika timbul
perasaan yang kurang yakin seperti hal-hal yang telah dibicarakan tadi kita
bisa menanyakan langsung kepada yang lebih berkompeten. Dan jika kita lebih
sering mengerjakan tugas saat pas sehari sebelum deadline jika tidak beruntung
maka kesalahan besar lah yang menimpa diri kita dan juga di ikuti penyesalan
yang terasa, sehingga muncul ide “Mengapa tidak mengerjakan jauh sebelum
deadline ya?”.
Jadi, jangan sampai deadline
mengejarmu tapi kejarlah deadline secepat mungkin,,
Dedikasikan Hidupmu
Libur telah tiba, UAS telah selesai,
dan harapan nilai yang memuaskan selalu terbayang di pikiran, inilah
penderitaan bagi mahasiswa yang terlalu mengharapkan sesuatu yang baik tapi
sisi pengorbanannya masih jauh di dasar sana, tak lain halnya, ya mahasiswa
yang hanya belajar ketika UAS saja dan itupun belajarnya 2 jam sebelum UAS
dimulai sungguh prefect sekali, termasuk saya sendiri Hahaa :D. Dan liburan
semester pun akan dimulai, saatnya mengemas barang2, buang semua buku (emang
punya buku) :0 dan tugasmu, lupakan dosen2 killermu, bawa pacarmu kalo punya -_- hehe. Tapi STOP! tunggu dulu jangan terburu-buru
bergegas kawan, ada sebuah kabar baik bagi saya dan kawan-kawan asrama UICCI
jogja, bahwa liburan semester ganjil
ataupun genap bagi penghuni asrama UICCI itu ada aturannya, yang mana setiap
liburan harus dibagi menjadi 2 bagian, atau stengah di asrama dan setengahnya
liburan lagi untuk dirumah, ohh no. Dan ini merupakan sistem liburan
asrama UICCI, yang sungguh bijak karena ketika liburan mahasiswa bukan lagi
saatnya untuk bermalas-malas, tetapi di isi kegiatan yang bermanfaat sperti halnya
di sini yang saya tinggali, saat liburan yaitu belajar agama, bahasa turki dan
arab, dan diskusi umum, dan itupun belajarnya dari fajar sampai tenggelamnya matahari
wuihh pasti ngantuk :D, haha ya Cuma dikit, padahal ngantuk bgt -_- , tapi
tetap semangat karena itu merupakan syarat yang wajib dipenuhi atau tiket
pulang/liburan hoho. Meskipun demikian liburan yang seharusnya 2 minggu tetapi
terpotong menjadi seminggu itu tak masalah bagi saya dan teman-teman UICCI,
karena pasti ada hikmah tersendiri untuk liburan dan sensasinya pun lebih
terasa, yaitu kebih menghargai waktu saat liburan dengan kegiatan-kegiatan yang
mungkin sudah di planingkan.
Namun, yang sebenarnya harus
dilakukan saat mahasiswa liburan yaitu dedikasi atau pengorbanan apa yang harus
diberikan khususnya kepada orang tua dan keluarga bahkan masyarakat sekitar
saat kita berada ditengah-tengah mereka, inilah tugas yang sesungguhnya bagi
seorang mahasiswa. Dan ini adalah masalah yang belum teratasi bagi saya yang
sudah kulewati 3 semester tapi apa daya saya belum bisa memberikan secara penuh
dedikasi pengorbanan yang ku berikan kepada orang tua. Dan inilah PR bagi saya
sendiri, tapi saya selalu berusaha sebaik mungkin untuk menunjukan kualitas dan
kuantitas sebagai seorang mahasiswa. Tetapi sebagai orang tua pasti sudahlah
bangga walaupun dedikasi yang diberikan anaknya belum secara penuh untuk
keluarga dan masyarakat, tapi inilah kebanggaan tersendiri karena dangan
mahasiswa yang berusaha dan semangat dalam perkuliahan tidak malas-malasan
mengejar masa depan, proses inilah yang harus di apresiasikan untuk mengingat
bahwa tugas dan beban seorang mahasiswa tidaklah ringan untuk membangun Bangsa
dan Tanah Air.
Kesalahan & Kesempatan
9 Agustus
2014, saya atas nama terdakwa dalam kasus kesalahan Hidup, telah di vonis oleh
hakim diri dalam pasal “kesalahan menyia-nyiakan kesempatan” dan telah dituntut
dengan hukuman seumur hidup untuk mengubah hidup menjadi lebih baik dan
memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tidak melakukan kesalahan yang kedua
kalinya atau ketiga kalinya, bahkan seterusnya, tidak membuang-buang waktu, dan
selalu positive action don’t stagnan.
Ku akhiri juga
penyesalan ini dengan rasa bersyukur masih diberikan kesempatan untuk
mengubahnya, perasaan yang terus ragu-ragu yang selalu menghantui jiwa ini akan
ku buang jauh-jauh dengan melakukan langkah awal untuk merubah dunia hidupku.
Satu hal lagi
yang perlu diingat bahwa ketika seseorang menjalani hidup tanpa rintangan
bagaikan bunga yang tidak mempunyai warna sehingga menjadi absurd. Optimis,
kerja keras, fokus, berdoa, usaha dengan sungguh-sungguh dan maksimal tentunya
akan mendorong kehidupan dunia bahkan mengubah hidup kita lebih baik. Dan
ketika seseorang sedang mengalami drop atau galau tingkat dewa itu merupakan
hal yang sangat wajar sekali bagi manusia. Kadang kuat, lemah lembut, keras
kepala, sehat, sakit dll itu merupakan kehidupan, mau gak mau lagi kita harus
siap siaga on time 100%. Masa yang sekarang yang kualami adalah masa remaja
yang sangat labil, oke saya tahu itu naluriah tapi mengapa banyak remaja yang
selalu salah dan benar menjadi satu padu yang seolah-olah itu sama aja yang
penting seneng dan suka, bahkan yang parah lagi meraka tidak sadar bahwa yang
dia lakuin itu memang melenceng dari kesalahan atau kebenaran, so jadi saya
termasuk mereka, tapi asal anda tahu semuanya masa yang saya alami ini yang
berjuta rasanya adalah masa awalku untuk menuju sebuah langkah awal untuk
menyosongsong masa depan yang sangat begitu banyak rintangan kehidupan. Terima kasih.
,,Good luck for you
Terima kasih
telah meluangkan waktu dan pikiran untuk mengungkapkan ini…
Saya selalu
mendukungmu jika kamu memang benar...
Jangan
remehkan diri sendiri…
Carilah jati
dirimu lebih dahulu daripada pasangan hidupmu yang sudah diatur dengan baik...
"Sebuah lagu
dongeng dari penulis untuk pembaca,,
Aku disini,
tetap berdiri, walaupun hujan deras menghantam tubuhku
Selalu
mengerti dan bahkan memaknai setiap rintik yang turun dari langit
Untuk menunggumu
datang di kehidupanku
Oke fix, see
you later blues
Loyalitas Seorang Fans - Fanatisme Bola
Anda mengaku fans berat klub
sepak bola? Itu tidak cukup dengan unjuk jari saja, tapi harus punya loyalitas
dan ketulusan! Itulah pernyataan yang dilontarkan oleh teman kita fans yang
menjunjung loyalitas kepada fans yang lain, nah disinilah perseteruan fanatisme
fans dimulai yang siap untuk menunjukan siapa fans yang sebenarnya yang
mempunyai loyalitas dan cinta, sungguh ini merupakan fanatisme kecil di
lingkungan yang saya tinggali yang begitu memanas di setiap masing-masing tim
telah bertanding, dengan hasil antara kemenangan dan kekalahan sebagai patokan dimulainya
suatu perseteruan yang mungkin menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka
karena menyangkut harga diri seorang fans yang telah menjadi bagian dari
jiwanya, sebagimana mestinya yang timnya menang dengan bangga dan percaya diri
memulai provokasi kepada fans tim rivalnya yang telah kalah, begitupun fans
yang telah di provokasi merasa tidak terima dengan apa yang telah diperbuatnya.
Dan inilah fanatisme yang akan penulis uraikan kepada teman-teman blues bloger yang
telah atau akan, dan sedang terjadi di asrama UICCI (Pondok Pesantren
Sulaimaniyah) Jogjakarta.
Memang, sepakbola merupakan
olahraga nomor satu sedunia yang paling banyak penggemarnya. Merebutkan bola
yang dimainkan oleh 22 pemain dengan hanya satu tujuan untuk memasukan bola ke
gawang untuk meraih angka itulah sepakbola. Sepakbola juga tidak lepas dari
supporter atau fans yang rela mendukung timnya saat bertanding untuk meraih
kemenangan, dimana fans merupakan faktor yang bisa menentukan permainan tim
menjadi lebih optimal dengan semangat dukungan yang diberikan oleh seorang fans pendukung baik yang hadir di stadion
atau diluar stadion untuk memberikan support.
Tak lain halnya yang terjadi di
asrama UICCI jogja, termasuk saya sendiri yang ikut berkecimbung didalamnya
mengukuti alur liga Inggris, Spanyol, Italia dan liga bergengsi Champion yang
semakin memanas terutama dikalangan para fans asrama yang antusiasme menjunjung
loyalitas. Sudah tidak tabu lagi jika seorang fans berat klub sepak bola rela
untuk bangun malam untuk menyaksikan timnya bermain walaupun hanya melihat
dilayar monitor, tapi memang loyalitas tidak di ukur dengan menonton disetiap
pertandingan saja, namun apakah tidak dipertanyakan loyalitas sebagai fans jika
tidak menonton secara live di televisi? Huuhh. Fanatisme fans di asrama ini
adalah sebuah realita yang memberikan kesan bahwa tim yang menang selalu di
unggulkan oleh fans tersebut dengan suatu kebanggan bahwa timnyalah yang paling
hebat, mereka selalu memprovokasikan kepada fans tim yang kalah dengan tujuan
memberikan ejekan kepada fans klub yang telah kalah bertanding, sebaliknya tim
yang kalah sebagi fans yang loyal sudah menjadi resiko tersendiri dengan
menanggung beban mental ataupun kesedihan yang menghimpit dada, dan
bagaimanapun fans loyal dan gentle itu mengakui kekalahan walaupun terasa berat
tapi di situlah loyalitas yang paling berat sebagai fans yang loyal. Dan
sungguh tak wajar jika seorang fans yang loyal menghadapi kekalahan tim dengan "lempar batu sembunyi tangan" dengan kata lain malu mengakui kekalahan dan
sembunyi, bahkan rela untuk tidak berangkat sekolah atau kampus karena takut
timnya yang kalah akan diejek, dan inilah fanatisme bola yang sangat memalukan
bagi seorang fans dan bisa juga disebut dengan barisan fans pendukung palsu. Tidak
bisa dipungkiri kenyataannya, persteruan antara fans sudah wajar terjadi tapi
alangkah baiknya menjunjung supportifitas fans secara sehat itu lebih
memberikan pencitraan bahwa sepakbola bukan sebuah permainan saja tapi lebih
mengedepankan kebersamaan tim, kekompakan dari pelatih ataupun supporter.
Begitupun yang saya amati di lingkungan asrama UICCI jogja walaupun terjadi
perang dingin antar fans, tetapi itu hanya sebagian untuk memberikan ungkapan
apresiasi dan yang paling penting adalah perseteruan antar fans yang memanas
selalu padam dengan kebersamaan yang diciptakan oleh teman-teman asrama dan
bagi saya sendiri itu sudah cukup untuk menjadi fans yang loyalitas dengan
mengedepankan kebersamaan walaupun beda club bola yang didukung tetapi
kepedulian antar fans masih terjalin dengan baik.



