Posted by : Blues Blogger Senin, 27 Agustus 2018


Tulisan ini merupakan catatan yang saya tulis pada awal tahun 2017, dimana setelah kegiatan ENJ “Ekspedisi Nusantara Jaya” saya membuka folder album foto-foto kegiatan ENJ dan merasakan kembali betapa tenang dan damainya kehidupan disana yang mana sangat dekat sekali dengan alam yang mereka tinggali. Sebelum memulai catatan saya yang telah saya tulis, paragraf ini akan mengulas sedikit mengenai eksspedisi Nusantara jaya itu sendiri atau bisa disingkat ENJ. Program ENJ merupakan program dibawahi kemenko kemaritiman oleh bapak Luhut Pandjaitan dimana misi dan visanya yaitu meningkatkan konektivitas pulau-pulau terpencil dan perbatasan dimana meningkatkan dari segi pendidikan, kesehatan, ekonomi dll.

Bulan November 2016 merupakan tepat dimana kami 12 orang mahasiswa berangakat ke pulau gili Kab. Gresik, Jawa Timur dan memulai program yang telah dicanangkan oleh kemenko kemaritiman, saya tentu saja bersyukur bisa mengikuti progam ini, karna banyak sekali tentunya pengalaman yang akan didapat. Mungkin keberuntungan memihak kepada saya dari basik perkuliahan saya tidak mendukung untuk survive langsung di alam serta pengalaman survive di alam juga tidak banyak yang tahu dan yang lebih parahnya lagi ini merupakan ekspedisi kemaritiman dimana sangat pasti berjumpa dengan laut tentunya mungkin harus seminimal mungkin bisa berenang, ketika saya menanyakan pada diri sendiri apakah saya bisa berenang jawabanya dalam hati bisa!! cuma tenggelam dilahap lautan. Sementara itu banyak sekali program yang menurut saya keren sekali seperti transplatasi terumbu karang, ini merupakan program yang bagi saya masih awam dalam dunia kelautan sangat tidak yakin bisa menyelesaikannya dan Alhamdulillah berkat kerja sama team semua teratasi dengan peralatan yang seadanya.
Dilihat dari peta Indonesia pulau gili yang berada di pulau bawean
ini hanya secuil atau setitik hijau jika dilihat dari peta, tetapi jangan salah di dalamnya terdapat surga dunia yang sangat indah dan belum terjamah banyak orang. Pulau gili disebut dengan pulau wanita karna para lelaki pergi melaut sehingga yang berada dipulau hanya para perempuan saja. Sementara itu penduduk di pulai gili hanya 400-500 orang, dengan sangat minim fasilitas umum seperti energy listrik belum ada, dan warga disana memperoleh listrik dari mesin diesel yang hanya dinyalakan malam hari saja dan itupun hanya 3 jam. Sekolahan pun hanya ada satu itupun hanya sekolah dasar / SD. Memang sangat memperhatinkan tapi dibalik itu ketika kami disana mersakan benar-benar kehidupan yang sangat  tenang dan damai jauh dari HP karna signalpun tidak masuk di pulau tersebut, bising kendaraan pun tak terdengar karna tidak ada kendaraan mobil atau motor yang lewat dan hanya perlu waktu 1 jam berjalan kaki sudah bisa mengelilingi pulau tersebut. Masyarakat yang ramah dan sangat menjunjung nilai agama islam, walaupun hanya ada sekolah SD saja tetapi pada siang sampai sore hari ada sekolah Diniyah untuk belajar agama islam bagi anak-anak, anak-anak disinipun sangat masih polos banyak hal yang mereka tidak tahu diluar pulau mereka sepertu hal-hal yang baru, mereka hanya sibuk di dunia mereka yaitu bercengkrama dengan alam dan bermain sepanjang hari tak terlepas dari pesisir pantai dan lautan.
Sangat menakjubkan sekali pulau gili bagi saya sendiri, dan jika ada kesempatan lagi ingin berdestinasi ke pulau gili karna cukup recommended untuk snorking dan melihat keindahan alam yang belum terjamah banyak orang.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Thanks to

Flag Counter

- Copyright © 2013 Blues bloger -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -